Selasa, 24 April 2012

158: Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri

#158: Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri (:Res)

senopatiJudul                : Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri
Penulis              : Gamal Komandoko
Penerbit            : Diva Press
Edisi                 : Cet-I, Mei 2009
Tebal                : 400 halaman
Harga               : 34.000,-
Tempat Beli      : Jakarta Book Fair 2009, Istora
Peresensi          : aGusJohn

Buku ini seperti menjadi lanjutan dari karya sebelumnya, Joko Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu”. Walaupun data sejarah yang digunakan bersifat normatif –yang berlaku umum, tapi produktifitas sang penulis dalam membuat novel sejarah patut diacungi jempol.
Buku yang teridir dari 19 bab ini mengupas habis tentang Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati Ing Alaga Sayyidin Panatagama, raja pertama Mataram Islam. Berikut ringkasan novel sejarah ini:
***
Ki Pamanahan resah bercampur kecewa. Bumi Mentaok sebagai hadiah sayembara dalam mengalahkan Aryo Penangsang belum juga diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang. Sultan yang masa mudanya bernama Joko Tingkir itu terkesan mengulur, menunda-nunda atas pemberian hadiah tersebut. Padahal, tanah Pati yang menjadi satu paket dalam hadiah sayembara tersebut sudah diserahkan ke Ki Penjawi, sepupu Ki Pamanahan.
Pamanahan benar-benar sangat kecewa, karena kesetiaan, pengabdian yang selama ini ia lakukan seolah-olah diabaikan begitu saja oleh Sultan Hadiwijaya. Pengorbanan demi kewibawaan Kasultanan Pajang yang ia lakukan tatkala tidak satupun orang Pajang yang berani melawan Aryo Penangsang, Adipati Jipang yang sakti mandraguna. Pamanahan merasa dirinya sangat berjasa pada berdirinya Pajang.
Meskipun sangat kecewa, Pamanahan tidak mau melakukan pemberontakan pada Hadiwijaya. Dia lebih memilih bertapa di dusun Kembang Lampir guna mendekatkan diri pada Tuhan demi meminta keadilan atas nasibnya. Sunan Kalijaga seorang waliyullah anggota Dewan Wali Songo mengetahui kesedihan Pamanahan tersebut. Sang Sunan yang menjadi panutan masyarakat Jawa tersebut kemudian menjadi mediator mempertemukan Pamanahan dengan Hadiwijaya. Hadiwijaya akhirnya menyerahkan bumi Mentaok pada Pamanahan dengan syarat Pamanahan mengucapkan sumpah-setia pada Pajang. Solusi dari Sunan Kalijaga itu untuk menjawab keraguan Hadiwijaya yang takut akan ramalan Sunan Giri bahwa kelak di hutan Mataram akan muncul penguasa Jawa.
Tapi Pamanahan cerdik, atas nama kehendak Tuhan yang tiada satupun orang tahu, dia hanya sumpah setia untuk dirinya sendiri, tidak dengan anak-turunannya. Di sinilah sesungguhnya awal “perlawanan” Mataram terhadap Pajang (Bab I).
Tulisan penulis bahwa orang Pajang takut pada Aryo Penangsang (halaman 11) patut dikritisi. Ini sangat inkonsistensi dengan buku sebelumnya, Joko Tingkir…”. Justru, yang menghalangi Hadiwijaya untuk membunuh Aryo Penangsang adalah Pamanahan (bersama Ki Juru Martani, Ki Penjawi). Kelompok Selo inilah yang membuat sayembara atas pembunuhan Adipati Jipang tersebut, dan mereka pula yang melarang Hadiwijaya kemudian mereka ambil sendiri sayembara tersebut.
Setelah mendapatkan hutan Mentaok berkat campur tangan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan mengajak 150 orang Selo migrasi ke hutan Mentaok. Sebelum menuju Mataram, mereka ijin dulu ke Pajang. Dalam perjalanan, mereka mampir di Dusun Taji. Oleh sesepuh desa Taji, Ki Ageng Karang Lo, rombongan Selo itu mendapatkan jamuan makan yang memuaskan. Sebagai bukti kesetiaan, Ki Ageng Karang Lo mengantar rombongan Selo hingga hutan Mentaok. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Sunan Kalijaga yang sedang mandi di sungai. Ki Pamanahan dan Ki Ageng Karang Lo segera mendekat dan mencuci kaki Guru Agung Tanah Jawa tersebut. Karena kebaikan keduanya, maka Sunan Kalijaga berkata, “Anak keturunan Karang Lo kelak akan hidup mulia bersama anak turunan Pamanahan, tapi tak boleh menyandang gelar “Raden” atau “Mas”, dan tidak boleh menaiki tandu.(Bab II).
Sampailah rombongan Selo itu di hutan Mentaok. Dengan kerja keras tiada henti, hutan lebat itu diubah menjadi pemukiman yang ramai, Mataram namanya. Sebuah dusun yang kaya akan hasil beras dan kayunya. Ki Pamanahan diangkat sebagai sesepuh Mataram dengan gelar Ki Ageng Mataram.
Wirayatuya (ramalan) Sunan Giri terus terngiang dalam benak Pamanahan. Ramalan itu menjadi cambuk pelecut bagi Pamanahan untuk bekerja keras dalam membesarkan Mataram. Tidak lupa, laku prihatin juga dia lakukan.
Suatu hari, Pamanahan melakukan lelaku menuju lereng Gunung Kidul. Dia ingin menemui sahabatnya, Ki Ageng Giring (Ki Ageng Paderesan). Karena terlalu hausnya, dan tidak ada jawaban dari tuan rumah –Giring sedang menderes aren di hutan, Pamanahan langsung menuju dapur rumah Giring. Melihat kelapa muda teronggok di dapur, maka langsung dipecah dan minumlah sampai habis.
Begitu sampai di rumah, Giring murka. Kelapa muda yang dia anggap “ajaib” karena diyakini kelak barang siapa yang meminumnya sampai habis akan menurunkan raja penguasa Tanah Jawa justru didapat Pamanahan dan bukan dirinya.
Saking murkanya, Giring meminta agar setelah keturunan ketujuh dari Pamanahan berganti ke anak turunannya. Pamanahan menjawabnya dengan diplomatis; menolak tidak, mengiyakan juga tidak (Bab III).
Dalam versi KH Abdurrahman Wahid dalam tulisannya “Membaca Sejarah Lama (1)” dalam Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser”, LKiS, 2002, meminum kelapa muda dalam budaya Jawa bisa diartikan selingkuh. Artinya, Pamanahan selingkuh dengan istri Ki Ageng Giring tatkala Giring sedang menderes nila di hutan. Dan kelak anak turunan hasil selingkuhan itulah yang akan menjadi raja-raja Mataram berikutnya pasca Sutawijaya dan anak cucunya.
“Perlawanan” Mataram terhadap Pajang terus berlanjut. Sutawijaya kembali bikin ulah. Dia menyukai Rara Inten, calon selir Sultan Hadiwijaya yang dititipkan pada ayahnya. Rara Inten adalah bekas selir Sunan Prawoto sebagai hadiah dari Ratu Kalinyamat kepada Joko Tingkir atas keberhasilan menyingkirkan Aryo Penangsang.
Cinta terlarang itu semakin intens. Pamanahan ketakutan jika Hadiwijaya tahu dan murka. Atas saran Ki Juru Martani, Pamanahan dan Sutawijaya akhirnya menghadap ke Pajang. Keduanya mengaku salah atas perbuatan tersebut. Hadiwijaya yang pema’af mengampuni ulah-tingkah Sutawijaya, anak angkatnya itu. Sultan Pajang juga mengingatkan agar Pamanahan bisa menjaga dan mendidik anak agar moralnya menjadi baik. Merekapun kembali ke Mataram. Sutawijaya-Rara Inten dinikahkan. Dari hasil pernikahan ini lahirlah putra pertama Sutawijaya, Raden Rangga. Yang dalam catatan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Mangir” (LKIS, 200x), anak tersebut dibunuh oleh Sutawijaya sendiri dengan alasan mengganggu stabilitas kekuasaannya di awal pembentukan Mataram (Bab IV).
Peristiwa penghadapan Sunan Giri di Japanan (Mojokerto). Sultan Hadiwijaya selaku penguasa Pajang, para adipati, bupati se Tanah Jawa bagian timur hadir. Forum ini merupakan forum wejangan (nasehat), siraman rohani dari Sunan Giri kepada seluruh elite politik Jawa waktu itu. Di samping itu, Sunan Giri juga memberikan ajaran ilmu tata negara, ilmu kanuragan, ilmu kebatinan (tasawuf/filsafat) dan ilmu peperangan.
Ketika melihat sosok Pamanahan, Sunan Giri menatap tajam cucu Ki Ageng Selo tersebut. Pamanahan dimintanya pindah duduk ke depan sejajar dengan para adipati/bupati. Di depan forum, berwirayatuya-lah Panembahan Sunan Giri bahwa kelak anak turunan Pamanahan akan menjadi raja Tanah Jawa. Bahkan, Giri pun kelak akan takluk pada kekuasaannya.
Pamanahan langsung jadi pusat perhatian. Para adipati dan bupati seolah-olah mengamini wirayatuya tersebut. Tapi tidak dengan Sultan Hadiwijaya. Raut mukanya jadi berubah. Melihat perubahan tersebut, Sunan Giri melanjutkan bahwa itu sudah takdir Allah. Yang menolak wirayatuya tersebut akan kena bilahi (bencana, musibah).
Sepulang dari acara penghadapan, Kasultanan Pajang mengadakan rapat mendadak. Sultan Hadiwijaya mengumpulkan elite politik Pajang. Pangeran Benawa, Patih Mancanegara, Tumenggung Wila, Tumenggung Wuragil mengajukan pendapat untuk menghancurkan Mataram, tapi Hadiwijaya mencegahnya. Sultan Pajang itu sepertinya takut dengan kutukan Sunan Giri akan bencana jika melawan wirayatuya di Japanan itu.
Begitupun di Mataram. Pamanahan juga berbagi cerita ke seluruh elite politik Mataram tentang wirayatuya Sunan Giri dan juga cerita ramalan Ki Ageng Giring yang selama ini ia rahasiakan.
Dalam kesempatan itupula Pamanahan memberikan wasiat kepada sanak-kerabatnya, diantaranya: jika anak-cucunya berkuasa, agar menempatkan posisi secara mulia kepada kerabat Mataram (Selo) yang telah mbabat alas hutan Mentaok menjadi Mataram. Kedua, kalau suatu saat Mataram akan ekspansi ke Bang Wetan (daerah pesisir Jawa Timur) hendaknya dilakukan pada hari Jum’at Pahing bulan Muharram, sama dengan hari penghadapan Sunan Giri di Japanan. Ketiga, dalam penaklukan Bang Wetan hendaknya tidak melewati Gunung Kendeng.
Tidak lama kemudian Ki Ageng Mataram jatuh sakit. Dia akhirnya wafat tahun 1584. Sebelum meninggalnya, Ki Ageng Mataram kembali memberikan wasiat; menitipkan anak-anaknya ke Ki Juru Martani, sepupu sekaligus iparnya. Kedua, menunjuk Sutawijaya, Raden Ngabehi Loring Pasar untuk menggantikan keududukannya. Ketiga, agar Sutawijaya tetap mengusahakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Mataram. Keempat, agar anak-anaknya yang lain (Raden Jambu, Raden Santri, Raden Tompe, dan Raden Kedawung) patuh dan taat pada Ki Juru Martani (Bab V).
Sepeninggal Ki Ageng Mataram (Ki Ageng Pamanahan), Sutawijaya memimpin Kademangan Mataram. Atas saran Ki Juru Martani, semua anak Ki Ageng Mataram dibawa menghadap Sultan Hadiwijaya di Pajang untuk mendapatkan pengesahan sekaligus memberi kabar tentang meninggalnya Pamanahan.
Hadiwijaya sedih, kenapa kabar duka itu terlambat datangnya sehingga dia tidak bisa mengiringi jenazah abdi setianya itu. Dia juga akan mencari pengganti Pamanahan untuk memimpin Mataram. Tapi sebelum selesai Hadiwijaya berbicara, Ki Juru Martani sudah menyela tentang wasiat Pamanahan; bahwa pengganti selanjutnya adalah Sutawijaya. Sultan setuju dan memberi gelar Sutawijaya dengan “Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama”.
Sebelum rombongan Mataram itu pulang, Hadiwijaya berpesan pada Senopati untuk serius membangun Mataram. Dengan alasan pembangunan itu, dia diberi waktu setahun untuk tidak perlu menghadap ke Pajang agar lebih fokus pada pembangunan Mataram, dan tepat setahun dari penghadapan ini agar datang ke Pajang. Senopati dan Juru Martani setuju.
Di bawah kekuasaan Senopati, Mataram berkembang pesat menjadi lebih besar. Ia bangun prajurit yang kuat, mendirikan tembok pagar mengelilingi kademangan, membangun balai kademangan yang megah dan memerintah dengan adil. Benih-benih perlawanan Mataram terhadap Pajang semakin nyata; tepat setahun, Senopati tidak juga mau menghadap pada Sultan Hadiwijaya di Pajang (Bab VI).
Dalam acara penghadapan agung semua adipati, bupati di Pajang, Senopati juga tidak datang. Di satu sisi, Sultan Hadiwijaya geram tapi tidak tegas. Sultan Pajang itu sepertinya sangat takut pada wasiat Sunan Giri. Untuk  memastikan kepatuhan Senopati, Hadiwijaya mengutus Tumenggung Wila dan Tumenggung Wuragil untuk menemui Senopati agar mau menghadap ke Pajang.
Setiba di Mataram, kedua utusan Pajang itu dilecehkan oleh Senopati yang sedang berlatih perang dengan menunggang kuda. Senopati tidak mau turun dari kudanya dalam berbicara. Kedua tamunya -yang juga dulu pernah mengasuhnya tatkala Senopati masih ingusan sebagai anak angkat Sultan Pajang- tidak diperlakukannya sebagai seorang tamu.
Dengan kesabaran, kedua utusan Pajang itu membujuk Senopati agar mau menghadap ke Pajang, tapi Senopati menolak dengan syarat; dia akan mau menghadap ke Pajang jika Hadiwijaya tidak lagi mengganggu istri orang. Betapa geram Ki Wila dan Ki Wuragil. Karena tahu akan resiko ucapan Senopati, maka keduanya terpaksa berbohong pada Sultan bahwa Senopati akan menyusul. Hadiwijaya untuk sesaat tenang dengan laporan bohong tersebut (Bab VII).
Penolakan Senopati untuk menghadap ke Pajang dengan cara yang kasar pada Ki Wila dan Ki Wuragil mengundang marah Ki Juru Martani. Tak bisa dibayangkan bagaimana murkanya Sultan Hadiwijaya jika laporan itu masuk ke telinga Hadiwijaya. Didrampatnya habis Senopati. Penguasa Mataram itu tertunduk, minta ma’af dan meraa menyesal atas kelakuannya.
Perlawanan Mataram semakin nyata. Kemunafikan Senopati semakin terlihat. Utusan dari Kedu dan Bagelen yang akan mengirimkan upeti ke Pajang dicegatnya. Dengan jamuan makan yang lezat, iming-iming jabatan jika Mataram jadi kerajaan, dan dengan tarian dari para selir, utusan dari dua daerah bawahan Pajang itu lupa. Senopati dengan lihainya mengatakan bahwa antara Pajang dan Mataram sama saja. Mengirim upeti ke Mataram sama halnya dengan ke Pajang, karena dia adalah anak angkat kesayangan Sultan Hadiwijaya.
Senopati mulai menggalang kekuatan. Cara-cara yang menunjukkan ambisi Senopati untuk berkuasa, mewujudkan wirayatuya Sunan Giri. Cara yang tidak sesuai dengan harapan mendiang ayahnya, Ki Pamanahan dan paman sekaligus penasehatnya, Ki Juru Martani –yang menginginkan wirayatuya itu berlangsung dengan alamiah tanpa ada kesan perlawanan atau pemberontakan. Dalam hal ini, kedua tokoh itu telah gagal total dalam mendidik Senopati untuk menjadi seorang raja yang bermoral (Bab VIII).
Senopati melakukan ritual tapa-prihatin untuk mewujudkan wirayatuya Sunan Giri. Suatu malam dia tertidur di atas sebongkah batu besar di Kali Opak. Dengan disaksikan Ki Juru Martani, Senopati kejatuhan pulung (wahyu kerayon) yang menyebut bahwa Senopati kelak akan jadi raja hingga anak cucunya, tapi Mataram akan jatuh di era cicitnya.
Wangsit keraton semakin dijemput. Atas saran Juru Martani mereka berbagi tugas. Ki Juru Martani akan “sowan” ke Gunung Merapi, sedangkan Senopati disarankan “sowan” ke Laut Kidul.
Untuk menuju Laut Kidul Senopati melakukan tapa ngeli (ngintir, terhanyut). Dengan mengikat tubuhnya pada sebilah papan dari kayu jati tua (Tunggul Wulung), dia membiarkan tubuhnya terhanyut di Kali Opak hingga Laut Kidul. Di hilir Kali Opak dia kemudian naik di atas ikan Olor yang dulu pernah diselamatkannya dari seorang nelayan. Begitu sampai di Laut Kidul, Senopati berdiri tegak di tepian ombak lautan kidul itu.
Datanglah ombak besar, angin menderu membuat gelombang badai setinggi gunung. Selama tujuh hari tujuh malam badai itu berlangsung. Senopati tetap tegar berdiri melanjutkan tapanya. Melihat hal tersebut, datanglah Sunan Kalijaga, Wali Agung Tanah Jawa.
Wali anggota Dewan Wali Songo tersebut menasehati Senopati agar tidak sombong dengan memamerkan kesaktiannya seperti itu karena Allah bisa tidak suka. Senopati mengajak Sunan Kalijaga karena sang Sunan ingin melihat kemajuan Mataram. Sesampai di Mataram, Sunan Kalijaga menasehati agar Senopati membangun pagar rumah sebagai bentuk ketawakalan kepada Allah. Sang Sunan juga menyarankan agar Senopati  membuat pagar bumi jika akan mendirikan rumah. Juga Sunan menyarankan agar rakyat Mataram membuat batu bata sebagai bahan membangun kota raja.
Sunan Kalijaga kemudian mengambil tempurung berisi air. Dituangkanlah air itu seraya berkeliling dan berdzikir. Sang Sunan berpesan, “ Kelak jika engkau membangun kota, maka ikutilah tuangan airku ini”. Sang Sunan kemudian berpamitan (Bab IX).
Penghadapan agung di Pajang semua hadir kecuali Senopati. Pangeran Benawa dikirim ke Mataram didampingi Patih Mancanegara dan Adipati Tuban untuk mencari tahu sebenarnya sikap Senopati. Dengan dikawal 100 prajurit Pajang dan 100 prajurit Tuban mereka bertiga berangkat ke Mataram.
Senopati tahu dari mata-matanya di Pajang, seorang abdi dari Ki Pangalasan yang datang mendahului ke Mataram. Melihat ada Benawa dalam rombongan itu, maka disambutlah utusan Pajang dengan meriah. Senopati membawa 100 prajurit Mataram dan 2 gajah menyambut rombongan Pajang di Randu Lawang. Bertemulah kedua pihak. Mataram menyambut dengan jamuan yang lezat.
Dalam pertemuan itu Benawa meminta konfirmasi/klarifikasi pada Senopati tentang kebenaran pembangunan pagar tinggi sebagai benteng, penanaman beringin kurung di tengah alun-alun dan pembangunan prajurit Mataram yang kuat. Senopati bersilat lidah dan tipu-muslihat dengan berbagai alasan yang membuat Benawa percaya. Senopati berkilah, ia tidak menghadap ke Pajang karena sedang fokus membangun Mataram.
Untuk lebih meyakinkan Benawa, Senopati mengajak rombongan Pajang ke Mataram. Senopati dan Benawa naik gajah yang telah disiapkan. Mereka menuju Mataram (Bab X).
Jamuan berlanjut di Mataram. Makan, minum tuak, wanita-wanita cantik menghibur sebagai pelayan. Utusan dan prajurit Pajang terbuai akan tugas awalnya. Adipati Tuban sampai mabuk tuak. Karena pengaruh tuak, dia meminta tarian “Beksan Rangin” atau juga disebut Beksan Lawung” yang berarti tarian perang dengan menggunakan tombak/lembing. Dengan congkaknya Adipati Tuban pamer kekuatan, menantang Senopati, tapi tidak dilayani. Raden Rangga yang gampang emosi dicegah oleh ayahnya. Adipati Tuban memerintahkan ganti prajurit Tuban yang pamer tarian perang.
Raden Rangga yang terus diprovokasi akhirnya tak betah juga, akhirnya dia turun. Prajurit Tuban mengeroyok. Satu orang prajurit kepalanya diremukkan. Melihat hal ini, utusan Pajang pergi tanpa pamit.
Sungguh baiknya Pangeran Benawa. Dia tetap melaporkan yang baik-baik saja pada Sultan Hadiwijaya. Sultan Pajang itu kembali menunjukkan ketakutannya. Pengaruh terhadap takdir dan wirayatuya Sunan Giri tetap melekat (Bab XI).
Raden Pabelan, putra Tumenggung Mayang dari Kerajaan Pajang yang masih saudara ipar Senopati bikin ulah. Akibat didikan kurang ajar dari ayahnya, dia berani menggoda putri sulung Sultan Hadiwijaya dengan cara masuk ke keputren hingga meniduri putri sulung Sultan Pajang selama 7 hari 7 malam. Melihat hal tersebut, Hadiwijaya murka. Raden Pabelan dibunuh, Tumenggung Mayang dibuang ke Asem Arang (Semarang) (Bab XII).
Senopati geram melihat tindakan Hadiwijaya yang memecat iparnya. Ia merasa Mayang tidak bersalah dan tidak pantas mendapat hukuman seberat itu. Atas saran Ki Juru Martani, Mataram merebut Mayang dari pasukan Pajang yang mengantarkan pembuangan itu ke Semarang.
Tepatnya di Hutan Jatijajar proses perebutan itu terjadi. Misi Senopati dilakukan oleh pasukan Bagelen dan Kedu yang dipimpin Ki Bocor. Strategi ini dilakukan agar Pajang tidak menuduh Mataram berada di balik perebutan itu. Lima prajurit Pajang yang berhasil lolos hingga keraton melaporkan hal tersebut pada Hadiwijaya.
Sultan Pajang murka! Dia memahami bahwa dalang di balik perebutan itu adalah Senopati. Ia lalu memerintahkan segenap pejabat Pajang dan pasukannya untuk menghancurkan Mataram. Hadiwijaya memimpin langsung penyerangan itu (Bab XIII).
Bala tentara Pajang ditambah dengan Demak, Banten, Tuban dan para sekutu Pajang mulai menuju Mataram. Mereka berkemah di Prambanan. Kedatangan pasukan gabungan Pajang itu diketahui oleh Senopati. Atas siasat Ki Juru Martani, pasukan Mataram tidak berhadapan langsung dengan pasukan Pajang, karena pasti kalah dari sisi jumlah dan kekuatan, tapi mereka menerapkan strategi penyerangan ke tempat kemah pasukan Pajang pada malam hari.
Caranya, setiap prajurit Mataram dibekali minimal 3, 4 hingga 10 obor, dimana semuanya harus dinyalakan secara serentak. Selebihnya ditempelkan di pohon-pohon. Para prajurit itu ditempatkan berada di atas bukit di sebelah barat Prambanan, tempat berkemah pasukan Pajang. Serentak mereka kemudian berteriak melakukan tantangan pada pasukan Pajang.
Pasukan Pajang terkejut! Begitu pula Sultan Hadiwijaya. Mereka tidak mengira sebegitu banyak pasukan Mataram, padahal itu hanya obor yang dinyalakan di ranting, dahan pohon. Nyali Sultan Pajang dan para petinggi Pajang menjadi kecut, kecuali Adipati Tuban yang pemberani. Sultan Pajang kembali terngiang akan wirayatuya Sunan Giri akan kebesaran Mataram.
Misteri alam terjadi. Gunung Merapi tiba-tiba meletus. Gempa bumi dahsyat, diikuti angin ribut meluluhlantakkan kedua pasukan yang bersiap bertempur. Mengetahui itu, dengan cerdiknya Ki Juru Martani dengan kekuatan tenaga dalamnya berteriak melakukan tantangan ke pasukan Pajang. Teriakan ahli siasat itu diikuri oleh pasukan Mataram, maka semakin menggemalah tantangan itu membuat pasukan Pajang lari tunggang-langgang. Mereka mengira, Mataram dibantu oleh Kiai Sapu Jagad (Kanjeng Ratu Sekar Kedaton) penunggu dan penguasa Gunung Merapi dan Kanjeng Ratu Roro Kidul, penunggu pantai selatan. Dengan kepercayaan akan mitos-mitos tersebut, gabungan pasukan Pajang porak-poranda, lari terbirit-birit.
Sultan Hadiwijaya semakin ciut hatinya. Dia memerintahkan seluruh pasukannya untuk kembali ke Pajang. Adipati Tuban dan Patih Manca kecewa tapi tidak berani menolak. Bergeraklah pasukan besar itu ke Pajang dengan wajah menunduk. Mereka kalah sebelum berperang.
Sesampai di Tembayat, Sultan Hadiwijaya berkeinginan ziarah ke makam Sunan Tembayat, tapi pintu makam itu tidak bisa dibuka. Sultan Pajang kembali meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan, Kiai Liman, gajah Sultan berontak. Maka jatuhlah Sultan Pajang dari atas punggung gajah. Sultan kesohor itu mengerang kesakitan. Terpaksa ia pulang ditandu (Bab XIV).
Kabar Sultan Hadiwijaya sakit serius menyebar sampai ke telinga Senopati. Sang anak angkat Sultan Pajang itu berniat mengiringi perjalanan ayah angkat sekaligus gurunya itu sampai Pajang. Diiringi dengan 40 pasukan berkuda Mataram Senopati menyusul rombongan pasukan Pajang.
Pangeran Benawa yang mengetahui Senopati menyusul, melapor ke ayahnya, Sultan Pajang untuk minta ijin menumpas rombongan kecil Senopati, tapi tidak diijinkan oleh Sultan Hadiwijaya. Sultan Pajang justru berwasiat agar Benawa tetap hidup rukun dan saling menguatkan, tidak melakukan perlawanan terhadap kakak angkatnya; Senopati.
Sesampai di Pajang, Senopati beristirahat di Dusun Mayang, sebelah barat pura istana Pajang sambil menunggu perkembangan kesehatan ayah angkatnya. Dia menolak perintah Sultan Pajang agar datang menghadapnya, Senopati justru mengirimkan bunga telasih pada Sultan Pajang.
Benawa geram. Bunga telasih adalah lambang bunga pengiring kematian. Ingin rasanya dia menyerang Senopati, tapi keinginan itu dicegah oleh Hadiwijaya. Sultan Pajang kembali berwasiat bahwa tidak ada matahari kembar. Hanya ada satu matahari, dan ia akan bersinar terang di atas Mataram.
Sultan Hadiwijaya wafat. Dia dimakamkan di Butuh. Pajang berduka! Begitupula Senopati. Dia diberi kehormatan untuk menyucikan dan menyolatkan jenazah ayahanda angkatnya.
Sepeninggal Sultan Hadiwijaya, melalui rapat para kerabat istana memutuskan Pangeran Benawa sebagai pengganti Sultan Pajang tapi suarat bulat itu diveto oleh Sunan Kudus yang lebih memilih Adipati Demak, Pangeran Pengiri, yang juga menantu Sultan Hadiwijaya. Benawa akhirnya ditempatkan di Kadipaten Jipang, bekas kekuasaan Aryo Penangsang.
Benawa sangat kecewa dengan sikap Sunan Kudus. Ia merasa, anggota Wali Songo itu tak hentinya memusuhi keluarga besar dan leluhurnya. Kakek-buyutnya, Pangeran Jayaningrat tewas di tangan Sunan Ngudung, ayahanda Sunan Kudus. Kakeknya, Ki Ageng Pengging juga tewas di tangan Sunan Kudus karena ia bersikukuh mengikuti ajaran Syekh Siti Jenar dan tidak mengakui kekuasaan Raden Patah di Demak. Dan ayahnya, Joko Tingkir nyaris terbunuh oleh Aryo Penangsang dalam penjebakan musyawarah di Kudus.
Dendam membara mengiringi Pangeran Benawa yang “dibuang” ke Jipang (Bab XV).
Senopati atas saran dari Ki Juru Martani agar melepaskan diri dari kasus konflik internal Pajang. Datanglah Ki Pengalasan, orang kepercayaannya yang sengaja dipasang di Pajang. Dia melaporkan tentang kekisruhan yang terjadi di Pajang, seperti rakyat tercera-berai, kejahatan merajalela sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap penguasa Pajang, orang Demak diberi privelege yang lebih dari orang Pajang.
Utusan Pangeran Benawa, Manjer Lawe datang menghadap Senopati. Dia menceritakan tentang mimpi mendiang Sultan Hadiwijaya untuk kembali merebut Pajang. Senopati menolak dengan alasan dia tidak ingin ikut campur dalam konflik internal Pajang. Manjer Lawe pulang, dan tak lama kemudian kembali lagi membawa pesan Benawa bahwa Pajang diserahkan ke Senopati jika Senopati mau membantu Benawa dalam merebut Pajang. Baru kemudian Senopati mau membantu.
Pajang dan Mataram bertemu di Gunung Kidul (Weru). Kembali Senopati memanfaatkan mata-matanya di Pajang, Ki Pangalasan untuk membuat propaganda di Pajang tentang adanya rencana penyerbuan Pajang oleh kekuatan Mataram dan Jipang. Rencana itu berhasil, hampir semua eks pasukan Pajang membelot ke kekuatan Mataram+Jipang. Kekuatan Pajang tinggal pasukan Demak dan para budak belian dari Bali, Bugis dan Makassar (Bab XVI).
Benawa dan Senopati menyerbu Pajang. Pangeran Pengiri ditangkap dan kemudian dibuang ke Demak. Senopati menolak pemberian atas Pajang. Pajang dikembalikan ke pangkuan Pangeran Benawa. Sebagai imbalan, Senopati meminta pusaka-pusaka keraton Pajang, seperti gong Kiai Sekar Delima, Kendali Kiai Macan Guguh, cemeti Kiai Jatayu, dll (Bab XVII).
Senopati resmi bertahta sebagai raja Mataram dengan sebutan Panembahan Senopati. Sesuai dengan wasiat ayahnya, Senopati kemudian mengangkat saudara-saudaranya sebagai orang penting Mataram. Raden Jambu diangkat sebagai Pangeran Mangkubumi, Raden Santri sebagai Pangeran Singasari, Raden Tompe sebagai Pangeran Tumenggung Gagak Baning (yang kelak menjadi Adipati Pajang menggantikan Pangeran Benawa). Sedangkan sang paman, Ki Juru Martani diangkat sebagai Tumenggung Mandaraka.
Ekspansi ke Bang Wetan dimulai, tapi diketahui oleh Pangeran Surabaya. Adipati Surabaya lalu mengumpulkan kekuatan dari Tuban, Sedayu, Lamongan, Gresik, Lumajang, Kertosono, Malang, Pasuruan, Kediri, Wirasaba, Blitar, Pringgabaya, Pragunan, Lasem, Madura, Sumenep, Pakacangan. Mereka dikumpulkan di Japan (Mojokerto).
Bertemulah dua kekuatan besar; Mataram melawan Bang Wetan di Japan. Bentrokan nyaris terjadi, tapi dipisah oleh utusan Sunan Giri yang melarang perang. Sunan Giri berpesan agar tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan. Atas perintah Sunan Giri, kedua pihak disuruh memilih, antara wadah dan isi. Pangeran Surabaya memilih isi, sedangkan Senopati memilih wadah.
Hasil pilihan dilaporkan ke Sunan Giri. Menurutnya, isi adalah orang-orangnya, sedangkan wadah adalah negara. Isi harus mengikuti wadah, kalau tidak maka isi akan bisa diusir.
Mendengar keputusan Sunan Giri, pihak Surabaya merasa tidak puas. Bersama kekuatan  Bang Wetan lainnya mereka kemudian berkumpul di Madiun untuk menyerang Mataram. Madiun yang dipimpin oleh Pangeran Timur, putra bungsu Sultan Trenggono merasa terancam dengan agresifitas Mataram. Pangeran yang bergelar Panembahan Madiun merasa memiliki kesamaan kepentingan dengan Bang Wetan. Menyatulah kekuatan yang sangat besar bahkan lebih besar dari Mataram, yakni Madiun + Bang Wetan.
Tapi siasat Madiun + Bang Wetan dicium oleh Senopati. Mataram terus melaju hingga Kali Dadung, mereka kemudian berkubu di sana. Dua kubu hanya dipisahkan oleh Bengawan Madiun. Merasa kekuatan kalah besar, Mataram kembali mengatur siasat. Kali ini dengan umpan perempuan. Atas saran Mandaraka, Mataram pura-pura takluk. Dikirimlah Ni Adisara, seorang abdi keraton yang sangat cantik jelita untuk menyamar sebagai putri keraton untuk menemui Panembahan Madiun dengan membawa surat penyerahan diri Senopati.
Di hadapan Panembahan Madiun, Adisara menangis-mengiba, menyerahkan surat takluknya Senopati. Panembahan Madiun terjebak siasat Mataram. Maka, dibubarkanlah gabungan Bang Wetan dan dia melarang Madiun dijadikan sebagai kubu pertahanan untuk melawan Mataram. Separuh kekuatan Bang Wetan kembali ke wilayahnya masing-masing.
Atas saran Mandaraja, Senopati pergi ke Kadilangu untuk minta restu sekaligus baju “Kiai Antakusuma” dari Sunan Kalijaga. Dengan diiringi sepuluh prajurit pilihan Senopati menuju Demak. Sedangkan semua sisa pasukan Mataram masih berkubu di Kali Dadung. Begitu baju dan restu didapat, maka diserbulah Madiun (Bab XVIII).
Pasukan Mataram yang merupakan gabungan dari prajurit Mataram sendiri ditambah pasukan Pati, Pajang, Demak dan Grobogan menyerang Madiun dan sedikit kekuatan Bang Wetan yang tersisa. Secara masif Madiun dibombardir Mataram dari segala penjuru. Tepat sore hari, Madiun takluk. Sebagian pasukan Madiun yang masih hidup melarikan diri ke Surabaya.
Sangat geram Panembahan Madiun. Dia mencap Senopati sebagai seorang marta wisa (penampilannya rendah hati, tapi kelakuannya bak racun). Perkataan dan perbuatan sangat tidak sinkron. Untuk membalas kelakuan Senopati, Panembahan mengumpankan putrinya, Retno Jumilah untuk membunuh Senopati. Dibekalinya putri sulungnya itu dengan keris Kiai Gumarang.
Begitu Senopati sampai di istana, Retno Jumilah menumpahkan kekesalannya. Senopati ditombak, dipedang, diiris dengan pisau cukur tapi tidak tembus. Begitu keris Kiai Gumarang dicabut dari warangkanya, mundurlah Senopati. Senopati bicara pada Jumilah, bahwa kedatangannya menyerbu Madiun adalah sebagai wujud takdir Tuhan. Dia datang untuk meminang Retno Jumilah sebagai istrinya sekaligus sebagai syarat yang pernah putri Madiun itu minta, bahwa: Retno Jumilah hanya mau menikah dengan seorang yang tubuhnya kebal terhadap tikaman, sayatan pisau cukur miliknya yang tajam. Dia juga menginginkan seorang suami yang ayahandanya menyembahnya.
Mendengar cerita Senopati, gemetarlah Jumilah. Keris Kiai Gumarang pun lepas dari tangannya. Dia menyadari bahwa Senopati adalah lelaki yang dikirim Tuhan sesuai dengan syarat yang pernah diucapkannya.
Segera saja Senopati memasukkan keris pusaka itu ke dalam warangkanya. Diambilnya keris itu, dan kelak namanya diganti dengan keris Kiai Gupita.
Takluknya Madiun menjadi entry point bagi Mataram untuk menyerang Bang Wetan. Pasuruan kemudian takluk tanpa perlawanan. Menyusul Kediri dan Rawa. Yang masih melawan adalah Adipati Gending dan Pesagi, tapi keduanya tetap kalah.
Sebelum semua Bang Wetan takluk, Senopati meninggal. Dia dimakamkan di barat masjid di samping makam ayahnya. Wasiatnya, dia menunjuk Raden Mas Jolang sebagai penggantinya. Anaknya yang lain (Raden Rangga, Pangeran Puger, Pangeran Purbaya, Pangeran Jaya Raga, Juminah, Pangeran Pringgalaya, putri beristrikan Demang Tanpa Nangkil, putri beristrikan Pangeran Tepa Sena) harus patuh pada keputusan itu (Bab XIX).
Menjadi catatan, dimanakah posisi Putri Pambayun yang begitu terkenal dalam peristiwa pemberontakan Mangir dalam novel ini? Sequel peristiwa Mataram-Mangir yang begitu fenomanel tidak tersentuh sama sekali dalam literatur sejarah novel ini. Padahal, perlawanan Wanabaya Ki Ageng Mangir itu terjadi sebelum Mataram ekspansi ke Bang Wetan.
Novel ini terkesan “lurus-lurus saja” dalam memetakan sosok Senopati. Padahal jika Anda membaca buku ini akan banyak ditemukan hal-hal yang kontradiktif. Di satu sisi, buku ini menceritakan bagaimana baik hatinya seorang Senopati, tapi di sisi yang lain; keculasan, kelicikan, kekurangajaran Senopati juga dengan mudah bisa kita baca. Melihat demikian, semakin menguatkan asumsi saya bahwa literatur sejarah yang dipakai ini terlalu “memihak pada penguasa” kala dibuat.
Peran Ki Juru Mertani sangat menonjol dalam buku ini. Dia menjadi sosok yang tetap eksis dari jaman Kerajaan Demak, Pajang hingga Mataram.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar